Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 1


Bab 1: Pertemuan di Alam Mimpi

Malam itu, langit begitu jernih. Di pesantren tua peninggalan ayahandanya, Gus Javar, seorang ulama muda kharismatik, baru saja selesai mengajar tafsir dan wirid kepada santri-santrinya. Ia menutup pintu musholla perlahan, lalu duduk di beranda dengan kitab kuning terbuka di pangkuan. Tapi malam itu terasa berbeda.

Udara yang biasanya hangat, kini berubah sejuk dan membawa semerbak wangi melati. Gus Javar menutup kitabnya. Ia bersandar dan memejamkan mata.

Dalam lelapnya, ia terbangun di sebuah tempat asing — taman luas yang dipenuhi bunga-bunga putih dan cahaya kekuningan seperti senja yang abadi. Di sana, seorang wanita berdiri membelakanginya, menyanyi lirih dengan suara yang menggetarkan jiwa. Lagu itu... lagu lama yang pernah didengarnya saat kecil: "Seberkas Sinar."

> “Siapa engkau?” tanya Gus Javar, suaranya penuh rasa ingin tahu.



Wanita itu menoleh. Wajahnya bersih, anggun, dan bercahaya. Rambut hitam legam tergerai. Senyum lembut menyambutnya.

> “Namaku... Nike Ardilla. Aku datang bukan untuk menakutimu, tapi untuk memenuhi janji cinta yang tertunda.”



Gus Javar terdiam. Ia mengenali nama itu. Nama yang pernah menjadi legenda musik, yang kisah hidup dan kematiannya menyedot air mata ribuan orang. Tapi bagaimana mungkin dia berdiri di hadapannya sekarang?

> “Apakah ini mimpi?”



> “Mungkin. Tapi ada mimpi yang lebih nyata dari kenyataan,” jawab Nike, berjalan mendekat.



Ia menyentuh tangan Gus Javar. Dalam sekejap, hatinya bergetar — bukan karena rasa cinta biasa, tapi seperti ada bagian dari jiwanya yang hilang selama ini, kini kembali pada tempatnya.

> “Aku pernah berdoa di masa hidupku,” bisik Nike. “Jika kelak ada cinta suci yang datang dari langit, maka aku ingin bersatu dengannya, meski hanya di antara dua dunia.”



Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Gus Javar dan Nike Ardilla bertemu sebagai dua jiwa yang saling mencari.


---

Comments

Popular Posts