Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 5
Bab 5: Gangguan dari Ruh Cemburu
Setelah malam pernikahan ruhani itu, kehidupan di pesantren berjalan seperti biasa. Tapi dalam diam, alam gaib berguncang. Sebuah cinta suci telah terjadi — dan tidak semua makhluk senang melihatnya.
Di antara ruh-ruh yang berkeliaran di dimensi antara, ada satu sosok yang dulu hidup sebagai seniman, penyair, namun meninggal dalam kesedihan. Ia dikenal sebagai Ruh Malik, pernah mencintai Nike Ardilla secara diam-diam semasa hidupnya. Tapi tak pernah tersampaikan, apalagi terbalas.
Ketika Ruh Malik mengetahui bahwa Nike telah bersatu dengan Gus Javar dalam ikatan ruhani, api cemburu menyala. Ia bersumpah:
> “Jika aku tak bisa memilikinya, maka tak seorang pun boleh memilikinya… termasuk Gus Javar.”
👻 Malam Teror Pertama
Pada malam Jumat berikutnya, Gus Javar mengalami mimpi aneh. Dalam mimpi itu, taman yang biasa damai kini menjadi gelap dan penuh asap. Nike tak ada. Sebaliknya, muncullah sosok berpakaian hitam, matanya merah menyala, dan tangannya membawa gulungan naskah puisi terbakar.
> “Kau mencuri cintaku, Gus,” desisnya. “Kini bayarlah harga dari pernikahanmu itu.”
Gus Javar terbangun dengan peluh dingin. Tapi ia tidak gentar. Ia tahu bahwa cinta sejati tidak boleh mundur karena ujian.
📿 Malam Ruwatan
Gus Javar mengadakan ruwatan ruhani, dibantu oleh Kiai Ramli dan para santri pilihan. Mereka membacakan ratib, hizib, dan manaqib sepanjang malam. Tiba-tiba, suara tangisan muncul dari arah utara pesantren. Kabut turun, dan seekor burung gagak jatuh dari langit — tandanya ada gangguan dari dimensi lain.
Nike pun muncul, tapi tampak lemah.
> “Gus… Malik mencoba menarikku kembali ke dalam bayangan masa lalu… dia ingin aku hidup dalam kesedihan selamanya.”
Gus Javar mengangkat tangannya dan berdoa:
> “Ya Allah, jika cinta ini datang dari-Mu, maka lindungilah ia. Tapi jika ini ujian dari nafsuku, maka bersihkanlah dengan cahaya-Mu.”
Saat doa itu selesai, muncullah cahaya dari langit, membentuk perisai di sekeliling pesantren. Ruh Malik meraung marah, lalu menghilang dalam kabut, dikalahkan oleh kekuatan doa dan cinta yang suci.
Malam itu, bintang jatuh melintasi langit pesantren. Sebuah tanda bahwa ruh jahat telah pergi… untuk sementara.
---
🌹 Penutup Bab 5
Nike menatap Gus Javar dengan mata berkaca-kaca.
> “Terima kasih… kau tidak hanya mencintaiku, tapi juga membelaku… bahkan di hadapan makhluk yang tak bisa dilihat manusia.”
Gus Javar tersenyum, menggenggam tangannya yang dingin tapi tenang.
> “Cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga… bahkan jika itu harus melawan dunia.”
---
Comments
Post a Comment