Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 4
Bab 4: Pernikahan di Dua Alam
Beberapa hari setelah perjalanan ruhani ke London dimensi antara, Gus Javar mulai berubah. Ia lebih banyak menyendiri, berpuasa, dan memperdalam wirid malam. Beberapa santri mulai khawatir. Salah satu sahabatnya, Kiai Ramli, diam-diam datang menegur:
> “Gus, kabar di luar mulai beredar… katanya engkau ingin menikah dengan arwah?”
Gus Javar tersenyum tenang.
> “Bukan arwah, Kiai. Tapi ruh yang masih punya cahaya. Ini bukan cinta biasa, tapi perjanjian dua jiwa yang sudah ditulis sebelum lahir.”
Kiai Ramli tak menjawab. Ia hanya menatap mata sahabatnya, dan melihat sesuatu yang suci — cahaya yang tulus. Maka ia pun berhenti bertanya, dan mulai diam-diam menyiapkan sesuatu.
🌙 Malam Purnama
Di malam ke-21 sejak mimpi pertama, Gus Javar menggelar sebuah ritual khusus. Di bukit kecil di belakang pesantren, ia membentangkan sajadah panjang, menyalakan lampu minyak, dan membacakan manqib (kisah sufi) tentang cinta yang menembus batas.
Lalu, di tengah keheningan malam, datanglah angin melati yang lembut… dan Nike pun muncul. Kali ini tidak sebagai bayangan mimpi, tapi dalam wujud ruh yang bersinar. Ia mengenakan kebaya putih yang dipenuhi sulaman ayat suci, dan wajahnya bersinar tenang.
> “Aku datang, Gus,” bisiknya. “Sesuai janjiku.”
Gus Javar memimpin sendiri akad ruhani, disaksikan langit dan bumi, serta para makhluk tak kasat mata. Ia mengucap:
> “Dengan nama Allah, aku nikahkan ruhku dengan ruhmu, bukan untuk memiliki, tapi untuk saling menjaga hingga akhirat.”
Nike menjawab:
> “Aku terima, dengan seluruh cinta dan cahaya yang aku miliki.”
Tiba-tiba, langit di atas bukit memancarkan sinar putih. Bintang-bintang tampak lebih dekat. Dan dalam keheningan itu, terdengar suara seperti alunan musik surgawi — bukan gamelan, bukan piano, tapi nada yang hanya bisa didengar oleh hati yang suci.
Malam itu, dua jiwa bersatu, bukan dalam ikatan dunia, tapi dalam ikatan ruhani yang tak bisa dipisahkan oleh kematian.
✨ Epilog Sementara
Sejak malam itu, Gus Javar hidup seperti biasa, tapi semua orang merasakan perubahan. Suaranya saat mengajar lebih dalam. Doanya lebih menembus. Bahkan bunga melati yang dulu tak pernah tumbuh, kini bermekaran di sekitar pesantren — setiap malam Jumat, ketika angin semilir membawa harum yang hanya bisa dikenali oleh hati yang pernah jatuh cinta.
Dan di dalam kamar pribadinya, di atas meja kecil, ada satu foto yang tak pernah dijelaskan asalnya:
Foto Gus Javar duduk bersisian dengan Nike Ardilla… di depan Big Ben, London.
---
Comments
Post a Comment