Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 2


Bab 2: Rahasia dari Masa Lalu

Malam berikutnya, setelah mimpi pertama yang mengguncang jiwanya, Gus Javar kembali bermunajat dalam sujud panjang. Hatinya tak tenang. Mimpi itu bukan mimpi biasa — ada getaran ruhani yang sulit dijelaskan. Ia mulai bertanya dalam doa:

> “Ya Rabb… jika ini ujian, maka kuatkan aku. Tapi jika ini cahaya, maka bimbing aku untuk memahaminya.”



Dan ketika malam datang, ia tertidur dalam wangi melati yang semakin pekat. Alam mimpi membawanya kembali ke taman cahaya. Di sana, Nike sudah menunggunya — kali ini duduk di bawah pohon rimbun yang berbunga.

> “Nike…” gumam Gus Javar, berjalan mendekat. “Kenapa aku?”



Nike menatapnya, sorot matanya penuh rahasia dan kesedihan.

> “Kau mungkin tak sadar, Gus… tapi dulu, sebelum aku wafat, aku sering diam-diam mendengar ceramah dari radio-radio dakwah. Ada satu suara dari pesantren di Jawa Timur yang begitu menenangkan hatiku. Aku jatuh cinta… bukan kepada wajah, tapi kepada ruh yang bersinar.”



Gus Javar terdiam. Ia mencoba mengingat. Ia memang sering menjadi pembicara dakwah radio saat remaja — bahkan sebelum dikenal sebagai Gus. Suaranya dulu mengisi ruang-ruang hati para pendengar diam-diam. Tapi ia tak pernah tahu, salah satunya adalah Nike Ardilla.

Nike melanjutkan:

> “Aku tak pernah bisa mendekat. Aku hidup dalam dunia sorotan, dunia glamor, dunia yang sering membuat hatiku sepi. Tapi aku berdoa — di saat-saat akhir hidupku, aku memohon: jika ada kesempatan untuk mengenal cinta sejati, maka pertemukan aku dengannya… walau hanya setelah aku mati.”



Air mata Gus Javar mengalir dalam mimpi itu. Tangannya menyentuh tangan Nike.

> “Maka kau datang... melalui mimpi...”



> “Karena hanya di antara dua dunia, aku bisa benar-benar mencintai dengan suci.”



Tiba-tiba, di kejauhan, terdengar suara gamelan halus, seperti musik langit. Nike memandangnya dalam-dalam:

> “Tapi waktuku di sini terbatas. Jika engkau bersedia, ada jalan agar kita benar-benar bisa bersatu — bukan hanya sebagai mimpi, tapi sebagai jiwa-jiwa yang saling menjaga hingga akhir zaman.”




---

Bab 2 pun ditutup dengan pertanyaan besar:

> Beranikah Gus Javar menempuh jalan yang menembus batas kehidupan dan kematian?




---

Comments

Popular Posts