Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 6
🌙 Bab 6: Pesan Terakhir dari Nike Ardilla
Sejak peristiwa ruwatan dan kemenangan atas Ruh Malik, suasana di pesantren menjadi lebih tenang. Gus Javar menjalani hari-harinya seperti biasa — mengajar, berdzikir, dan memimpin santri. Tapi hatinya mulai merasa... hampa. Sudah tiga malam berturut-turut, Nike tak muncul lagi dalam mimpinya.
Malam keempat, barulah ia datang.
Namun kali ini, bukan dalam taman cahaya… tapi di sebuah padang luas berwarna keemasan. Nike berdiri di tengahnya, mengenakan jubah putih panjang. Di belakangnya, tampak gerbang cahaya yang bergetar seperti aurora — sebuah pintu antara dunia dan akhirat.
> “Gus… waktuku di antara dua dunia sudah hampir selesai,” katanya pelan. “Sebentar lagi, aku harus benar-benar kembali ke tempatku. Aku tak bisa hadir lagi dalam mimpimu.”
Gus Javar menatapnya dalam diam. Ia tahu hari ini akan datang, tapi tetap saja hatinya terasa retak.
> “Lalu bagaimana dengan janji kita? Tentang cinta yang abadi?”
Nike tersenyum lembut, air matanya jatuh seperti embun.
> “Cinta kita tetap ada… tapi kau harus melanjutkan hidupmu di dunia. Ajarkan pada orang-orang bahwa cinta tak harus memiliki, dan bahwa yang sudah pergi tidak selalu benar-benar hilang.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya — selembar surat berwarna emas, ditulis dengan tinta cahaya.
> “Simpenlah ini di hatimu, bukan di lemari. Di dalamnya ada doa yang akan menjagamu… dan aku akan datang, bukan lagi dalam mimpi, tapi lewat tanda-tanda kecil di sekelilingmu.”
Ketika Nike berjalan ke arah cahaya, Gus Javar hanya bisa berkata lirih:
> “Aku mencintaimu… sampai aku tak lagi bernapas.”
Dan Nike pun menghilang, dikelilingi cahaya putih keperakan yang tenang. Tak ada tangis. Hanya keikhlasan.
---
Comments
Post a Comment