Cinta Di Antara Dua Dunia: Gus Javar dan Nike Ardilla Bab 3


Bab 3: Perjalanan Ruh ke London

Malam ke-7 setelah mimpi pertama. Gus Javar kembali terlelap dalam dzikir, dan kali ini... ruhnya ditarik keluar dari jasadnya dengan lembut, seolah melayang mengikuti arus cahaya yang tak terlihat oleh mata dunia. Di sampingnya, Nike menuntunnya, mengenakan gaun putih panjang bersulam lafaz-lafaz suci.

> “Gus... malam ini aku akan membawamu ke tempat di mana ruh-ruh yang belum tenang menunggu jawaban. Tempat ini bernama London Ruhani.”



Gus Javar mengerutkan dahi.

> “London? Yang di Inggris?”



Nike tersenyum.

> “Bukan yang itu. London ini adalah nama dari ruang waktu antara. Dulu, dalam hidupku, aku ingin pergi ke London — tempat impianku meraih panggung internasional. Tapi takdir tak mengizinkan. Di sinilah, dalam dimensi antara, tempat itu mewujud menjadi ruang ujian. Dan hanya cinta yang ikhlas yang bisa melewatinya.”



Mereka tiba di sebuah kota yang aneh. Mirip London, tapi jalan-jalannya berkilauan, Big Ben bersinar lembut seperti berlian, dan udara penuh dengan gema nyanyian dari berbagai jiwa. Di tempat ini, waktu tidak bergerak lurus, dan bangunan terbuat dari ingatan.

Nike menunjuk sebuah gedung tua bergaya Victoria.

> “Itu… adalah panggung tempat aku pernah bernyanyi dalam mimpiku. Tapi kini, di sanalah ujianmu akan dimulai.”



Gus Javar masuk sendirian. Di dalam, ia menemukan bayangan masa lalu Nike: ia kecil, remaja, menangis dalam kesepian, bernyanyi dengan hati kosong meski dikelilingi sorak sorai. Di tengah panggung, muncul suara:

> “Jika engkau mencintai Nike, bukan hanya bayangnya… maka bawa ia keluar dari panggung ini. Bukan sebagai legenda, tapi sebagai jiwa yang ingin pulang.”



Gus Javar terdiam. Ia paham maksudnya. Cinta yang benar bukan sekadar mengagumi masa lalu, tapi memberi jalan bagi ruh yang pernah tersesat untuk kembali pada fitrah.

Ia memegang tangan Nike yang kini tampak lemah, seperti kehilangan kekuatan.

> “Nike... mari kita pulang. Bukan ke masa lalu, tapi ke cahaya yang menunggu kita di sana.”



Tiba-tiba, seluruh gedung berguncang. Lagu "Bintang Kehidupan" bergema di seluruh penjuru. Bangunan kenangan mulai runtuh, seolah Nike sedang melepaskan semua keterikatannya dengan dunia lamanya.

Saat semua cahaya menyatu, mereka berdiri di taman cahaya yang pernah mereka kunjungi.

> “Engkau lulus ujian, Gus...” bisik Nike, sambil tersenyum dan menangis. “Karena engkau tidak mencintai siapa aku di masa lalu, tapi siapa aku di hadapan Tuhan.”




---

Bab 3 berakhir dengan cahaya besar yang menyelimuti keduanya.

Dan suara gaib berkata:

> “Kini saatnya cinta kalian diuji dalam dunia nyata.”




---

Comments

Popular Posts